Pak Dullah penduduk desa Rejosari, Kecamatan sawahan Madiun menceritakan kisahnya pada saat dia berhaji. Yang mendengarkan ceritanya semua mendekat, mendengarkan kisah itu dengan seksama, biarpun para pendengarnya ada yang berkerudung sarung.
Memang dimalam itu hujan lagi tak henti-henti, anginpun selagi berhembus sejuk menyelimuti ruangan masjid sederhana itu, jadi udara waktu itu sangat dingin. Usai sholat berjamaah dimasjid di desa itu para jamaah tidak bergegas pulang, namun ia mendengarkan kisah sang haji DULLAH SOPO NYONO.
Pada saat dia masih muda, yaitu Dullah sekira masih berumur 26 tahun, dia termasuk pemuda yang rajin bekerja dan beribadah. Penghidupannya buruh tani, mengerjakan sawah dan kadang-kadang membersihklan rumput ditaman padi (jawa= matun). Dan juga jika panenpun tiba diapun ikutan menunai padi untuk mendapatkan upah (bawon=jawa), dan dari hasil kerja itulah dikumpulkan yang niatnya untuk dipakai ongkos naik haji. Maka dikembangkannyalah hasil itu dengan dibelikan kambing, dan dikembangkannya lagi untuk dibelikannya kerbau dan lain sebagainya, yang penting uang hasil kerjanya niatannya untuk berhaji. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dia tidak segan-segan bekerja sebagai buruh jaga kampung (ronda malam) menggantikan piket orang lain dengan upah.
Jika habis 'Isyak iapun rajin ikut mengaji di masjid. Memang Dullah muda memiliki suara yang bagus, merdu, ia sering diminta untuk melantunkan ayat-ayat suci Al Qur'an oleh para tetangga yang lagi punya gawe, atau di saat ada peringatan-peringatan hari besar Islam di desanya. Jika ada kegiatan Barjanji diapun tak ketinggalan, pasti ikut. Jadi pendeknya babyak warga yang memuji sama dia.
Tidak hanya itu saja, malahan jika ada acara kenduri, jika pak Muddin atau Pak Kiyai tak dapat hadir Dullah-pun yang akhirnya mewakilinya.
Di Desa Rejosari, ada warga yang paling kaya, sawahnya luas, tanamnya bermacam-macam. Warga itu bernama Haji Brahim dan Haji Mail. Hampir tiap tahun beliau ini berhaji ke Mekkah al Mukaromah. Biasanya Haji Brahim dan Haji Mail ini jualan hasil tani dan untuk melunasi kekurangan ONH biasanya jualan perhiasan istrinya dan kadang - kadang jualan tanah pekarangan.
Mengenai Dullah muda, pada suatu kesempatan ia bersilaturahim ke saudaranya di Ngawi. Habis sholat 'Isyak ia kedatangan tamu mengatakan bahwa di kampungnya ada orang membutuhkan tenaga (buruh serabutan) pembantu rumah tangga, ya bisa nyopir, bersih-bersih rumah, dan jika ada waktu di suruh mjengajay mengaji anaknya dan anak-anak tetangganya. Namanya Dzul Khoir, punya musholla, kaya raya, dan sopan-santun terhadap siapapun. Pikirku : "Alhamdulillah wasyukurillah, aku saguh, tapi tak ijin dulu sama sudraku, pasti diijinkan".Benar, akhirnya akupun ikut pak Dzul Khoir.
Dua tahun lamanya Dullah Muda ikut (jawa=ngawula) pak haji Dzul Khoir, juragan yang sangat akrab dengan Dullah dan sepertinya di aku seperti keluarga sendiri. Pak Dzul Khoir tidak membedakan - bedakan dengan keluarga lainnya. Sangat disiplin. Untuk mengimbanginya Dullah mudapun ikut giat dalam membantu, dan tak bernah sambatan dalam menjalankan tugasnya.
Pada suatu kesempatan kesempatan juragan Dzul Khoir pesan jika besok malam jum'at legi Dullah muda diajak ikut ke Masjid Jami', sholat tahajud di masjid itu. "Alhamdulillah.......", Dullah muda merasa senang, karena juragannya sangat mengerti akan kebutuhan pembantunya. Usai sholat lail (malam) dan wiridan secukupnya, Dullah muda pun berdo'a dengan sangat khusuk, mohon kepada Allah agar IA memanggil dengan secepatnya "berhaji" ke Mekkah Al Mukarromah dengan jalan yang mudah. Amiin. Setelah itu Dullah muda melihat kanan-kiri ternyata juragan Dzul Khoir sudah selesai sholat dan menunggu di undakan serambi depan.
Sambil duduk diserambi masjid juragan Dzul Khoir sepertinya mendengar "do'a" Dullah muda. Buktinya juraganpun bertanya: "Kang Dullah, kamu ini apa benar-benar ada niatan naik haji ?". Jawab Dullah muda : " Insyaalloh juragan jika aku sudah mampu". Selanjutnya juragan Dzul Khoir mengatakan: " Itu perkara yang mudah Dullah, tidak usah dipikir sulit-sulit. Asalkan Kang Dullah bersedia ikutan aku dan dengan caraku, insyalloh Kang Dullah akan berhaji bersamaku".
Dheg........., Alhamdulillah......., dalam hati Dullah muda terkejut, karena ia akan diajak juragan pergi haji dalam waktu dekat. Ucap si Dullah muda: "Kembang dlimo merang teles, neda nrimo Gusti Alloh sing mbales". Kemudian juragan Dzul Khoir melanjutkan pembicaraannya: " Begini Kang Dullah, sebenarnya selama Kang Dullah ikut aku, aku kan tidak pernah sholat jumat di masjid Jami' sini ta, tapi aku sholat Jumat di Masjidil Haram Mekkah atau di Masjid Nabawi Madinah". Ah....., sebenarnya aku sendiri mengeti jika juragan tidak pernah sholat jumat di masjid jamid di desa ini. Tapi aku tak pernah ingin tahu. Sejenak aku aku berpikir/ngelamun, bahwa dulu aku pernah dengar cerita jikalu para waliulloh di tanah jawa ini jika sholat jumat pasti di Mekkah.
Terkejut...., aku di jawil sama juragan: "Kang Dullah, kamu lagi nglamun apa ngantuk ?". Jawab Kang Dullah:"Maaf juragan, aku lagi ngantuk dikit". Juragan Dzul Khoir melanjutkan pembicaraannya: "Kang Dullah, ada syarat yang perlu diperhatikan oleh Kang Dullah yaitu pertama kamu tidak boleh memberitahukan kepada siapapun sebelum sampai di Masjid Nabawi. Kedua, kamu harus memejamkan mata selama aku gendong, dan setelah aku beri isyarat baru kamu baru boleh membuka mata. Bagaimana Kang Dullah, kamu sanggup memenuhi syarat itu ?. Ingat jika kamu melanggar, kamu akan terjebur di lautan (samudra). Apakah kang Dullah sudah faham ?". Dullah mengerti apa yang disampaikan oleh juragan Dzul Khoir.
Malam berikutnya Dullah diajak berangkat ke Mekah al Mukarromah. Dullah diminta untuk digendong (ngamplok) di punggung juragan Dzul Khoir, sesuai isyarat-isyarat yang pernah dijanjikan. Antara lain dengan mata terpejam. Tidak lama kemudian Dullah mendengar adzan, dan tidak lama kemudian juragan Dzul Khoir memberikan iyarat dan Dullah boleh membuka matanya. Dengan terbelalak mata Dullah, terkejut, heran dan lain sebagainya, ternyata Dullah dan juragannya sudah tiba di Masjid Nabawi Madinah. "Subhanalloh, wal hamdulillah, wasyukurillah.......", dengan meneteskan air mata Dullah berucap.
Lamanya delapan hari Dullah dan juragannya di Masjid Nabawi Madinah dan melaksanakan haji tamatu'. Kemudian sesampainya di Mekkah Al Mukarromah Dullah bersama juragannya menjalankan ibadah wajib. Ketika Dullah dan juragan Dzul Khoir melempar jumroh, iapun ketemu sama tetangganya sedesa (Desa Rejosari Madiun), yaitu Haji Brahim dan Haji Mail dan sempat berbincang-bincang. Usai Thowaf Ifadhoh Dullah dan Juragannya segera pulang ke tanah air dengan cara seperti saat berangkatnya.
Setibanya di rumah juragan Dzul Khoir mengadakan syukuran, famili dan tetangganya diundangnya dan semua oleh-oleh dari khas arab Saudi dihidangkannya, tak ketinggalan Buah Kurma dan Air Zam-Zam.
Seminggu setelah itu, juragan mengatakan kepada Dullah, bahwa ia akan diantar pulang ke kampung halannya di Desa Rejosari - Madiun, dan tidak ketinggalan oleh-oleh khas Arab Saudi dibawanya pula. Juragan Dzul Khoir mengantar Dullah sampai ke rumahnya, setelah ketemu dengan sanak keluarganya juraganpun bergegas pulang.
Tentu saja......., semua snak famili dan tetangga Dullah terkejut dan heran, dan setengah tidak percaya jikalau Dullah yang kerjanya hanya buruh iu bisa naik haji secepat itu. Kemudian seminggu setelah itu, datanglah Haji Brahim dan Haji Mail tetangga sekampungnya yang juga saat itu juga baru pergi haji. Beliau berdua bercerita akan pengalamannya di Mekkah bahwa pada saat mbalang jumroh beliau ketemu sama Dullah dan Juragannya, bahkan sempat jabat tangan dan saling tukar pengalaman (jawa=omong2an).
Dengan kedatangan Haji Brahim dan Haji Mail itulah para famili dan tetangganya baru percaya jika Dullah baru saja pergi haji bersama juragannya.
Sebulan setelah itu, karena Dullah merasa punya hutang budi kepada juragan Dzul Khoir, maka pada kesempatan ini Dullahpun pergi silaturohim ke rumah juragannya. Dibawakannya oleh-oleh untuknya dari hasil panen tanamannya, kelapa, ketan, beras, jadah dan lain-lain. Dullah naik dokar, dari Kota Madiun kira-kira arah selatan, tepatnya di selatan jembatan Catur kira-kira seratus meteran belok kanan.
Dullah terkejut, seperti orang bingung, linglung, toleh kanan - kiri kok tidak ada rumah, pada hal rumah " juraganku ya disini . Ah......... rumah juraganku dimana...."?. "Rumahnya tembok besar pinggir jalan ada musholla dan tiap ba'dal magrib aku pasti memberikan pelajaran mengaji kepada anak-anak". Sedang sekarang yang dilihat Dullah hanyalah pohon randu besar......, daunnya lebat dan dibawahnya banyak batu besar-besar. Dullah sejenak tertegun dan duduk tersipuh, hampir tidak bisa berdiri.
Sorenya Dullah sowan romo Kyai Ghozali di Pondok Pesantren Jethis Dagangan - Madiun, gurunya saat dia mondok dulu. Dikatakan oleh romo Kyai bahwa semua itu akan bisa terjadi jikalau Alloh SWT menghendaki, baca Al Qur'an Surat ke 27 ayat 38,39,40 jus 19.
Dullah merasa lega mendengar nasehat dari romo kyai dan pada akhir ia di juluki Haji Dullah Sopo Nyono. Wallohu a'lam bi sowab. ( Diterjemah dari Majalah Panjebar Semangat No.11, tanggal 11 Maret 2000)
=====:penulis/penterjemah dan kolektor mBah sakrip:======